BERITAKEBUMEN.COM – Hasil pengecekan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) memicu perbincangan hangat di masyarakat.
Sejumlah warga terkejut mendapati rumah tangganya masuk kelompok Desil 9 atau 10 meskipun merasa berpenghasilan biasa.
Fenomena ini memicu keluhan di media sosial, terutama saat warga beraset melimpah justru tercatat berada di Desil 2.
Desil sejatinya merupakan indikator peringkat kesejahteraan relatif, bukan pengukur kekayaan absolut.
BACA JUGA: Terdata Desil 9-10 di DTSEN Padahal Tak Mampu? Begini Cara Ajukan Perubahan Data
Penilaian DTSEN mengukur kondisi masyarakat melalui 39 variabel komprehensif, mulai dari faktor individu, fasilitas rumah tangga, hingga tingkat kerentanan ekonomi.
Langkah ini memastikan status desil tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan aset tunggal seperti mobil atau rumah sewa.
Isu ini makin krusial menyusul wacana pemerintah membatasi pembelian BBM bersubsidi jenis Pertalite.
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menyebut opsi pembatasan akses BBM bersubsidi bagi kelompok Desil 9 dan 10 guna menekan porsi subsidi agar tepat sasaran.
Namun, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Roni Pesasmita, menilai desil kurang presisi jika dijadikan satu-satunya acuan.
BACA JUGA: Begini Cara Mudah Perbarui Data Desil Bansos via HP, Cukup dari Rumah
Ia menyarankan data DTSEN diintegrasikan dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK), data kepemilikan kendaraan, dan histori transaksi sangat penting dilakukan.
Verifikasi silang ini penting untuk meminimalkan risiko subsidi salah sasaran sekaligus melindungi warga rentan agar tidak kehilangan haknya.






