KEBUMEN, Beritakebumen.com – Jika kamu berkunjung ke Kabupaten Kebumen, belum lengkap rasanya jika tidak mencicipi menu sarapan ikonik yang satu ini, Nasi Penggel.
Bukan sekadar nasi biasa, kuliner ini menyimpan sejarah panjang dan keunikan yang membuatnya tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern.
Suratman, seorang pedagang berusia 76 tahun yang berjualan di sekitar di Alun-alun Kebumen, menjadi salah satu sosok yang menjaga nyala api tradisi ini.
Sejak tahun 2010, ia setia menyajikan bulatan-bulatan nasi yang penuh filosofi kepada para pelanggan setianya.
BACA JUGA: Fakta Sejarah Kebumen: Buku Ini Mengungkap Fakta Hotel Juliana, RS Nirmala dan Penyatuan Karanganyar
Rahasia di Balik Nama “Penggel”
Keunikan utama Nasi Penggel terletak pada bentuknya. Berbeda dengan nasi pada umumnya, nasi ini didinginkan terlebih dahulu sebelum dibentuk menjadi bola-bola kecil seukuran bola pingpong.
“Dinamakan penggel karena dibulat-bulat,” ujar Suratman dalam video unggahan Kebumen Update TV.
Proses pembentukan nasi ini pun tidak main-main, memakan waktu hingga tiga jam untuk memastikan teksturnya pas.
Cita Rasa Otentik di Atas Daun Pisang
Penyajian Nasi Penggel sangat tradisional dengan menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Aroma daun pisang yang bertemu dengan nasi hangat memberikan sensasi rasa yang lebih nikmat dan otentik.
Nasi bulat ini kemudian disiram dengan sayur gori (nangka muda) yang dimasak dengan bumbu lodeh gurih. Sebagai pelengkap, tersedia berbagai pilihan lauk olahan sapi.
BACA JUGA: Menyingkap Misteri Watulawang: Situs Megalitikum, Tradisi Unik dan Jejak 10 Juta Tahun di Kebumen
Mulai dari kikil yang empuk, babat, hingga iso yang dimasak dengan bumbu opor kuning yang kental. Perpaduan rasa gurih, sedikit manis, dan pedas tipis menjadikannya menu sarapan favorit warga setempat.
Warisan Desa Kebulusan
Secara historis, Nasi Penggel pertama kali berkembang di Desa Kebulusan, Kecamatan Pejagoan. Dari sana, kuliner ini menyebar ke berbagai sudut Kebumen dan menjadi identitas daerah.
Bagi Suratman, berjualan Nasi Penggel bukan sekadar mencari nafkah, melainkan upaya untuk melestarikan budaya kuliner nenek moyang agar tetap dikenal oleh anak cucu nantinya.
Kuliner Murah Meriah
Meskipun proses persiapannya memakan waktu hampir seharian—mulai dari mengupas nangka muda di pagi hari hingga merebusnya hingga malam harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Satu porsi nasi penggel dibanderol mulai dari Rp15.000 saja.
BACA JUGA: 2 Destinasi Wisata Malam Gratis di Kebumen, Cocok untuk Liburan Akhir Tahun yang Hemat
Bagi kamu yang ingin mencicipi nikmatnya Nasi Penggel, pastikan datang lebih awal. Biasanya, pedagang mulai melayani pembeli sejak pukul 06.00 pagi dan seringkali sudah ludes sebelum jam 10.00 pagi.
Nasi Penggel adalah bukti bahwa kesederhanaan rasa dan keteguhan menjaga tradisi bisa menciptakan kenikmatan yang abadi. Jadi, sudahkah kamu sarapan Nasi Penggel hari ini?






