Panen Durian di Sadang Kebumen Turun Drastis, Produksi Anjlok hingga 90 Persen Akibat Cuaca

Petani durian di Kebumen keluhkan penurunan panen ekstrem hingga 90 persen. Pola musim yang tidak kering diduga jadi penyebab utama gangguan pembungaan. (Foto: Beritakebumen.com)

Menurut penjelasannya, penurunan produksi ini erat kaitannya dengan siklus iklim. Pohon durian biasanya membutuhkan masa stres setelah musim kemarau untuk memicu pembungaan. Namun, karena tidak adanya musim kemarau yang jelas, siklus alami pohon pun terganggu.

“Pohon tidak mengalami masa stres, sehingga tidak keluar bunga. Yang berbuah pun jumlah buah per pohonnya tetap maksimal, tetapi jumlah pohon yang berbunga sangat sedikit,” jelasnya.

Berita Lainnya

Paimin mengelola kebun durian seluas 3 hektar, yang terdiri dari lahan milik sendiri dan kerja sama dengan Perum Perhutani.

Kebunnya ditanami berbagai jenis durian unggulan, seperti montong, bawor, musangking, durian hitam, dan super tembaga, serta tetap mempertahankan durian lokal yang masih banyak peminatnya.

Di tengah fluktuasi harga pasaran, durian jenis bawor menjadi andalan karena harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan varietas premium lainnya.

BACA JUGA: Tembus Jutaan Rupiah per Kilo, Budidaya Vanili Jadi Pilihan Cerdas Petani Kebapangan

Saat ini, durian bawor dihargai sekitar Rp80.000 per kilogram, mengalami kenaikan dari tahun lalu. Sementara itu, harga durian hitam justru turun dari Rp350.000 menjadi Rp270.000 per kilogram.

Meski hasil panen menipis, Paimin mengaku tidak kesulitan memasarkan produknya. Reputasinya di kalangan pencinta durian dan kemudahan pasar online membuat stok durian dari kebunnya tetap laris terjual.

Berita terkait