Produksi Melimpah Tapi Harga Anjlok, Peternak Kebumen Desak Pemerintah Tetapkan HET Telur Ayam

Harga telur ayam ras di Kebumen anjlok, peternak keluhkan tipisnya margin keuntungan. (Foto: Pexels/AMBX Project)

KEBUMEN, Beritakebumen.com – Para peternak ayam petelur di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kini harus memutar otak agar usaha mereka tetap bertahan.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga jual telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan yang cukup signifikan, sehingga mengikis margin keuntungan mereka.

Berita Lainnya

Kondisi lesu ini salah satunya dirasakan oleh Ahmad Samingan, seorang peternak ayam petelur asal Dukuh Progaten, Desa Tambakprogaten, Kecamatan Klirong, Kebumen.

Samingan yang telah menekuni usaha peternakan ini selama kurang lebih 4,5 tahun, saat ini memelihara sekitar 400 ekor ayam ras petelur.

BACA JUGA: Resmi! Pojok UMKM Kutowinangun Buka Stan Gratis untuk Pelaku Usaha Lokal

Produksi Melimpah, Harga Malah Turun

Ironisnya, penurunan harga ini terjadi justru di saat produktivitas ayam petelur milik Samingan sedang berada pada masa puncak.
Melalui peremajaan ayam petelur yang dilakukan secara rutin, tingkat produksi telur di kandangnya mampu mencapai angka 85 persen.

Namun, hasil panen telur yang melimpah tersebut belum diimbangi dengan harga jual yang menguntungkan di pasar.

Harga telur di tingkat peternak yang sebelumnya sempat menyentuh angka Rp26.000 per kilogram, kini merosot tajam sebesar Rp3.000 menjadi Rp23.000 per kilogram.

Penurunan harga ini membuat keuntungan yang didapat para peternak menjadi semakin menipis, terutama untuk menutup biaya operasional dan pakan.

Menyikapi fluktuasi harga yang merugikan ini, Samingan berharap pemerintah bisa segera turun tangan dengan menerapkan Harga Patokan Pasar atau Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berpihak pada peternak mandiri.

“Yang diharapkan dari peternak Kebumen ya harga telur yang didengar dari peternak itu HEP (Harga Indeks Pasar) atau HET-nya Rp26.500 per kilogram. Mohon segera diterapkan untuk peternak ayam petelur,” ujar Samingan.

Menurutnya, patokan harga yang stabil sangat penting untuk memberikan kepastian usaha bagi para peternak lokal.

BACA JUGA: Update Harga Sembako Kebumen 10 Juni 2026: Minyak Goreng Curah Turun, Bawang Merah Merangkak Naik

Meski dihadapkan pada situasi pasar yang tidak menentu, Samingan memilih tidak menyerah. Ia menganggap pasang surut merupakan bagian dari dinamika dunia usaha yang harus dihadapi secara kreatif.

“Salah satu kenapa bisa bertahan, namanya usaha itu naik turun. Jadi gimana caranya kita bertahan di posisi kita lagi naik atau turun, di situlah perkembangan usaha,” ungkapnya.

Sebagai langkah konkret untuk menyelamatkan usahanya, Samingan kini mulai memperluas jaringan pemasaran secara mandiri.

Ia berupaya menjual hasil panen telurnya langsung kepada konsumen akhir tanpa melalui jasa perantara atau tengkulak.

Potong jalur distribusi ini terbukti mampu memberikan nilai jual yang lebih baik bagi peternak sekaligus menjaga keberlangsungan produksi telur di tengah situasi sulit.

Peternak meyakini, bisnis ayam petelur ini masih memiliki prospek yang sangat menjanjikan asalkan stabilitas harga dapat kembali terjaga.

Berita terkait