Berdasarkan data SD Negeri Pasusukan, sebanyak 26 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengalami keluhan. Tujuh orang lainnya juga terdampak, termasuk kepala sekolah. Keluhan muncul dalam waktu yang berbeda setelah makanan MBG dikonsumsi.
Kepala SD Negeri Pasusukan, Maryana, mengatakan makanan tiba sekitar pukul 08.30 WIB dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.00 WIB. Namun, gejala tidak muncul secara bersamaan. Sebagian siswa mulai mengalami keluhan pada malam hari, sementara lainnya baru merasakannya pada keesokan hari.
“Kalau untuk anak-anak beragam, dari mulai malam. Ada juga yang esok harinya. Enggak sama,” ujarnya.
Maryana menyebut seluruh 26 siswa yang terdampak telah kembali ke rumah. Sementara itu, seorang guru masih menjalani perawatan di RSUD Limpung.
Investigasi Masih Berjalan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemkab Batang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut. Pemeriksaan dilakukan terhadap berbagai sampel agar sumber kejadian dapat diketahui secara lebih akurat.
Pemerintah juga mengevaluasi aspek sanitasi dan higienitas SPPG sebagai bagian dari investigasi. Puskesmas Bawang sebelumnya telah melakukan pemantauan dan koordinasi dengan SPPG untuk memastikan standar kebersihan serta keamanan pangan dalam penyediaan MBG.
BACA JUGA: Djamin Setia Selamanya Tayang di Bioskop 1 Oktober 2026, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya
Kasus di Batang menjadi bagian dari evaluasi pelaksanaan MBG, khususnya terkait pengawasan keamanan pangan, kelayakan sanitasi, kompetensi penjamah makanan, serta mekanisme respons ketika muncul dugaan kejadian luar biasa terkait pangan.
Wapres Gibran menegaskan penanganan korban dan penyelesaian investigasi menjadi prioritas pemerintah. Hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab kejadian serta langkah tindak lanjut terhadap penyelenggaraan MBG di lokasi tersebut. ***






