Harga Stabil Rp5.700 per Kg, Panen Jagung di Pesisir Setrojenar Kebumen Melimpah

Panen raya jagung di pesisir Kebumen sukses digelar petani milenial. Produktivitas lahan capai 8 kuintal dengan harga jual Rp5.700 per kg. (Foto: Kebumen TV News)

BULUSPESANTREN, Beritakebumen.com – Puluhan petani di Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, baru saja menggelar temu lapang untuk merayakan keberhasilan panen raya jagung.

Momentum ini menjadi sinyal positif bagi penguatan ketahanan pangan daerah sekaligus dukungan nyata terhadap program swasembada pangan nasional.

Jagung kini bertransformasi menjadi komoditas primadona bagi warga pesisir selatan.

Karakteristik lahan yang sesuai serta perawatan yang relatif mudah menjadikan tanaman ini pilihan utama petani setempat untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

BACA JUGA: Panen Durian di Sadang Kebumen Turun Drastis, Produksi Anjlok hingga 90 Persen Akibat Cuaca

Parso, seorang petani milenial dari Kelompok Pemuda Tani Setrojenar, berbagi cerita tentang kemudahan budidaya jagung di lahan berpasir.

Menurutnya, proses dari awal pengolahan lahan, pemupukan, hingga masa panen tidak menuntut tenaga kerja yang besar, sehingga sangat efisien bagi petani muda.

“Kami hanya membutuhkan sekitar 1,5 kilogram benih untuk lahan ini, namun estimasi hasil panennya sangat memuaskan, bisa mencapai 8 kuintal jagung kering,” ungkap Parso.

Kesejahteraan petani kian terjamin dengan harga jual yang saat ini tergolong stabil. Di tingkat petani, harga jagung kering menyentuh angka Rp5.700 per kilogram.

Nominal ini memberikan keuntungan yang cukup signifikan bagi para penggarap lahan di tengah dinamika harga pangan.

Merespons keberhasilan ini, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Buluspesantren, Siti Wahyuni, mengingatkan bahwa produktivitas tinggi bermula dari persiapan yang matang.

BACA JUGA: Tembus Jutaan Rupiah per Kilo, Budidaya Vanili Jadi Pilihan Cerdas Petani Kebapangan

Ia menekankan bahwa kunci utama hasil panen yang melimpah terletak pada penggunaan benih yang berkualitas unggul.

Siti juga memberikan edukasi penting mengenai teknik pengolahan lahan. Ia menyoroti penggunaan pupuk organik yang harus diperhatikan tingkat kematangannya.

Penggunaan pupuk kandang yang belum terfermentasi sempurna berisiko membawa virus dan penyakit yang dapat merusak kualitas tanaman.

Berita terkait