Beritakebumen.com – Menjaga stamina selama bulan Ramadan sering kali menjadi tantangan besar akibat menurunnya kadar gula darah.
Di tengah rasa lemas dan kantuk yang menyerang, tidur siang muncul sebagai solusi praktis untuk memulihkan energi.
Dokter Tirta menjelaskan bahwa aktivitas ini merupakan strategi jitu untuk menghemat tenaga saat asupan nutrisi sedang terbatas.
Tidur siang singkat atau yang populer dengan istilah power nap sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
BACA JUGA: Benarkah Tidur Setelah Sahur Bikin Gemuk? Simak Penjelasan dr Tirta dan Risikonya bagi Tubuh
Menurut dr. Tirta, jeda istirahat ini memberikan kesempatan bagi otak untuk berhenti sejenak dari beban kerja yang padat.
Karena tubuh cenderung lebih cepat lelah saat berpuasa, istirahat di siang hari membantu menjaga kestabilan kondisi fisik hingga waktu berbuka tiba.
“Tidur siang membantu menghemat energi selama puasa. Power nap sangat bagus untuk memberikan otak jeda untuk beristirahat,” ungkap dr. Tirta dalam penjelasannya.
Meskipun bermanfaat, durasi menjadi kunci utama. dr. Tirta menyarankan agar waktu tidur siang dibatasi maksimal 60 menit atau satu jam saja.
Durasi ini dinilai paling optimal untuk menyegarkan pikiran dan mengembalikan fokus tanpa mengganggu sistem metabolisme tubuh.
Penting untuk diingat bahwa tidur siang berfungsi sebagai penyegar sementara, bukan pengganti kualitas tidur malam yang berfungsi untuk pemulihan total.
Peringatan penting bagi masyarakat adalah menghindari tidur yang terlalu lama atau “bablas”. Dr. Tirta sangat tidak menyarankan tidur dari waktu Asar hingga menjelang Magrib.
Durasi yang berlebihan dapat merusak ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Alih-alih merasa bugar, bangun tidur setelah waktu yang terlalu lama justru sering memicu rasa pusing, bingung, dan badan yang semakin lemas.






