Benarkah Kopi Bahaya untuk Jantung? Ini Penjelasan Dokter Tirta

Dokter Tirta Jelaskan Fakta Medis soal Kopi, Martabak dan Gejala Memar Tiba-tiba. (Foto: Ilustrasi AI)

BERITAKEBUMEN.COM – Dokter dan kreator konten kesehatan, Tirta Mandira Hudhi, kembali meluruskan berbagai mitos kesehatan yang ramai dibahas di media sosial.

Dalam sesi tanya jawab interaktif, ia membahas fakta medis seputar konsumsi kopi, munculnya memar tanpa sebab, uban di usia muda, hingga polemik makanan tinggi kalori seperti martabak.

Berita Lainnya

dr. Tirta menjelaskan bahwa konsumsi kopi jenis Americano dalam jumlah wajar relatif aman bagi kesehatan jantung orang normal.

Berdasarkan sejumlah penelitian, konsumsi sekitar tiga hingga enam gelas espresso per hari hanya meningkatkan tekanan darah sistolik dalam kadar ringan. Tubuh juga memiliki kemampuan beradaptasi terhadap efek kafein.

Namun, ia mengingatkan bahwa penderita gangguan irama jantung atau aritmia tetap perlu membatasi konsumsi kopi.

Ia menyarankan masyarakat memilih kopi tanpa tambahan gula berlebih dan menghindari konsumsi kafein pada malam hari karena efek stimulan dapat mengganggu waktu istirahat.

BACA JUGA: Efek Tenang saat Merokok Ternyata Hanya Ilusi Pola Napas, Ini Faktanya

Selain itu, dr. Tirta menyoroti pentingnya pemeriksaan medis jika seseorang mengalami memar tiba-tiba tanpa benturan.

Kondisi tersebut perlu diperiksa melalui tes darah lengkap dan konsultasi ke dokter spesialis hematologi untuk memastikan penyebabnya secara medis.

Ia juga menegaskan bahwa uban di usia muda dipengaruhi faktor genetika. Sementara penurunan fungsi otak akibat penuaan dapat diperlambat dengan menjaga aktivitas berpikir dan rutin berolahraga.

Terkait martabak, dr. Tirta menilai makanan tersebut bukan “racun” bagi tubuh, meski mengandung kalori, gula, dan lemak tinggi.
Menurutnya, kesehatan ditentukan oleh keseimbangan antara asupan kalori dan aktivitas fisik harian.

Di akhir sesi, dr. Tirta mengingatkan masyarakat agar lebih cermat menyaring informasi kesehatan di media sosial.

Ia menekankan pentingnya memverifikasi sumber dan data medis sebelum menjadikannya pedoman dalam menjalani pola hidup sehat.

Berita terkait