BERITAKEBUMEN.COM – Umat Muslim sebentar lagi akan menyambut sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebuah momentum yang penuh dengan keberkahan dan ladang pahala.
Di antara hari-hari mulia tersebut, tanggal 8 Dzulhijjah atau yang dikenal sebagai Hari Tarwiyah memiliki kedudukan istimewa.
Ulama terkemuka, Buya Yahya, mengajak umat Islam untuk tidak melewatkan kesempatan emas ini dengan melaksanakan Puasa Tarwiyah.
Meskipun secara riwayat hadis posisinya berbeda dengan Puasa Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijjah, keutamaan Puasa Tarwiyah tetap diakui secara luas oleh para ulama.
BACA JUGA: Puasa Arafah hingga Infak Harian, Ini Amalan Andalan Menurut Ustadz Adi Hidayat di Bulan Dzulhijjah
Ibadah sunah ini menjadi sarana spiritual yang sangat baik bagi umat Muslim global dalam mempersiapkan diri sebelum memasuki puncak ibadah haji maupun Puasa Arafah.
Asal-Usul Nama Tarwiyah
Dalam penjelasannya, Buya Yahya memaparkan sejarah di balik penamaan kata “Tarwiyah”. Istilah ini berakar dari kata yatarawun, yang memiliki arti mencari atau menyiapkan air minum.
Pada zaman dahulu kala di Mekkah, hari ke-8 Dzulhijjah menjadi waktu bagi para jemaah haji untuk memadati unta mereka dengan perbekalan air dan makanan demi persiapan perjalanan menuju Padang Arafah keesokan harinya.
Ada pula pendapat sejarah lain yang menyebutkan bahwa kata Tarwiyah berkaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim AS.
Momen ini menandai saat Nabi Ibrahim mendapatkan petunjuk awal berupa mimpi (rukyah manamiyah) untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, tepat sehari sebelum hari penyembelihan kurban.
Buya Yahya menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu ragu untuk menunaikan puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah.
Sebagian orang terkadang memperdebatkan status kesahihan hadis yang spesifik membahas Puasa Tarwiyah.
Namun, para ulama hampir mencapai kesepakatan utuh bahwa berpuasa di hari tersebut tetap sangat dianjurkan.
BACA JUGA: Buya Yahya Ajak Umat Islam Maksimalkan Amal Saleh di 10 Hari Pertama Dzulhijjah
Alasan utamanya adalah karena tanggal 8 Dzulhijjah termasuk ke dalam bagian sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Berdasarkan tuntunan agama, sepuluh hari awal di bulan ini merupakan waktu-waktu yang sangat dicintai oleh Allah SWT untuk memperbanyak amal saleh, termasuk berpuasa.
Melaksanakan Puasa Tarwiyah menjadi langkah awal yang indah untuk membersihkan jiwa dan melatih fisik sebelum menyambut hari Arafah.
Mengingat besarnya potensi pahala yang melimpah di awal bulan Dzulhijjah ini, umat Muslim diimbau untuk memanfaatkannya dengan maksimal demi meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.






