Kenapa Otak Lebih Suka Scrolling Sosmed Dibanding Baca Buku? Ini Penjelasan Fahruddin Faiz

Fahruddin Faiz ungkap alasan orang betah scrolling medsos, tetapi cepat bosan membaca buku. (Foto: Ilustrasi AI)

BERITAKEBUMEN.COM – Kebiasaan scrolling media sosial selama berjam-jam dapat membuat seseorang kesulitan menikmati aktivitas membaca.

Cendekiawan Muslim dan filsuf Fahruddin Faiz menjelaskan, perbedaan pengalaman antara menikmati konten digital dan membaca buku berkaitan dengan kebiasaan, cara belajar, serta keterlibatan pikiran dalam memproses informasi.

Bacaan Lainnya

Dalam perbincangan di kanal YouTube SAY Inspiratif, Fahruddin Faiz mengulas alasan banyak orang lebih tertarik pada konten media sosial daripada buku atau jurnal ilmiah.

Ia juga membagikan sejumlah cara untuk melatih kembali fokus, memperkuat imajinasi, dan menikmati proses berpikir.

BACA JUGA: Bukan Kebetulan, Ini Alasan Manusia Bisa Jatuh Cinta Menurut Fahruddin Faiz

Menurut Fahruddin, rasa nyaman terhadap suatu aktivitas terbentuk melalui kebiasaan sehari-hari.

Platform seperti TikTok menawarkan rangsangan audio dan visual secara cepat sehingga pengguna dapat menikmati konten dengan relatif sedikit usaha mental.

Sebaliknya, membaca buku menuntut keterlibatan pikiran yang lebih aktif. Pembaca perlu memahami kata, menghubungkan gagasan, dan membangun pemahaman secara mandiri.

Meski demikian, Fahruddin menilai media sosial tetap bisa dimanfaatkan untuk belajar. Setiap orang memiliki kecenderungan gaya belajar yang berbeda, mulai dari auditori, visual, hingga kinestetik.

Konten digital dapat menjadi sumber pengetahuan apabila digunakan secara tepat. Audiobook, ceramah, dan kajian ilmiah, misalnya, bisa membantu seseorang memperoleh informasi sekaligus memperluas wawasan.

Menikmati Proses Belajar

Fahruddin juga menekankan pentingnya membiasakan diri menjalani proses belajar yang membutuhkan usaha. Berbagai pencapaian dalam peradaban manusia lahir melalui perjuangan, ketekunan, dan pengorbanan.

BACA JUGA: Menentukan Pasangan Hidup, Ini Tanda Jodoh Menurut Fahruddin Faiz

Ia mencontohkan pengalamannya saat kecil yang menyukai pertunjukan wayang dan ludruk. Ketertarikan tersebut berbeda dari minat sebagian teman sebayanya saat itu.

Namun, kebiasaannya menikmati seni tradisional kemudian memberikan manfaat bagi kemampuan analisis filsafatnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa aktivitas yang awalnya terasa kurang menarik dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang apabila dijalani secara konsisten.

Membaca buku juga menawarkan pengalaman yang berbeda dari menonton film atau video pendek. Ketika membaca, seseorang perlu membayangkan tokoh, suasana, dan peristiwa berdasarkan teks yang tersedia.

Proses tersebut memberi ruang bagi imajinasi untuk bekerja. Pikiran juga terdorong menghubungkan informasi, mempertanyakan gagasan, dan membentuk pemahaman sendiri.

Interaksi dengan buku dapat diperkuat melalui kebiasaan mencatat, menandai bagian penting, atau menuliskan komentar di tepi halaman.

Aktivitas ini membantu pembaca berdialog dengan isi bacaan dan melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.

Cara Melatih Kembali Fokus

Untuk meningkatkan konsentrasi, Fahruddin menyarankan pengurangan durasi scrolling dan pembiasaan kembali membaca melalui media fisik.

Langkah tersebut dapat membantu seseorang mengurangi ketergantungan pada rangsangan digital yang datang secara cepat dan terus-menerus.

BACA JUGA: Tafsir Puasa Modern ala Dr Fahruddin Faiz: Antara Syariat, Hakikat dan Dampaknya pada Kehidupan

Ia menegaskan pentingnya komitmen untuk terus belajar sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas diri.

Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti menyediakan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca buku.

Durasi membaca kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan. Konsistensi menjadi kunci agar kegiatan membaca terasa lebih akrab dan tidak mudah ditinggalkan.

Pos terkait