Angka tersebut masih berada di bawah kriteria imkanur rukyah yang disepakati Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura atau MABIMS.
Kesepakatan negara-negara serumpun itu menetapkan batas minimal visibilitas hilal pada ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
“Atas dasar ini, kemungkinan besar Nahdlatul Ulama akan mengumumkan bahwa bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Syawal 1447 H bagi warga Nahdliyin diprediksi jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026,” jelas Ahmad Izzuddin.
Potensi Perbedaan dengan Muhammadiyah
Prediksi ini membuka peluang terjadinya perbedaan penetapan Idul Fitri dengan organisasi kemasyarakatan Islam lainnya. Seperti Muhammadiyah atau kelompok yang menggunakan Kalender Hijriah Global Terpadu (KHGT).
Perbedaan metode menjadi faktor utama, di mana PBNU berpegang pada prinsip rukyah lokal, sementara kalangan lain merujuk pada kemungkinan terlihatnya hilal secara global.
Dalam kalender KHGT misalnya, patokan sering diambil dari wilayah luar negeri yang posisi hilalnya sudah mencapai kriteria tertentu, seperti ketinggian 5 derajat dan elongasi 8 derajat.






