Namun, mari kita lihat kondisi Kecamatan Padureso saat ini. “Maksud dari krikil munggah
kendil itu adalah zaman di mana orang harus menjual batu untuk bisa mendapatkan beras. Dan
benar saja, sekarang di sekitar Padureso hadir perusahaan tambang batu, yang pada akhirnya
membuka lapangan pekerjaan dan menjadi mata pencaharian warga untuk menghidupi
keluarga,” ungkap Salim Said mengenang kebijaksanaan sang sesepuh.
BACA JUGA: Keajaiban ‘Smong’ Simeulue: Saat Dongeng Pengantar Tidur Mengalahkan Keganasan Tsunami 2004
Pembacaan alam kedua tak kalah menakjubkan, yakni tentang Sidopet. Nama ini merujuk pada
salah satu kedung (palung sungai) di aliran Sungai Bedegolan di masa lalu. Mbah Haji Rojikin
menceritakan kedung ini akan benar-benar menjadi Sidopet, yang dalam otak-atik gathuk bahasa
Jawa diartikan sebagai "mengisi dompet" atau membawa kesejahteraan ekonomi.
Prediksi ini menemui titik terangnya. Diyakini berada tepat di lokasi berdirinya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Wadaslintang (Indonesia Power) saat ini, aliran air tersebut kini benar-benar
“mengisi dompet” melalui aliran energi listrik yang menerangi banyak wilayah.
Pesan Kultural “Bedali Bedahing Kali” Sebuah Alarm Harmoni Agar Alam Tak Diingkari
Bukti ketajaman ilmu titen sang sesepuh berlanjut pada pesan "kali ilang kedunge" (sungai
kehilangan palungnya). Metafora ini kini terwujud dengan berdirinya bendungan milik
Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) tak jauh dari Jembatan Bedegolan. Pembangunan
infrastruktur pengairan ini merubah bentang alam sungai secara harfiah, di mana kedung-kedung
alami yang dulu bebas mengalir kini dikelola untuk hajat hidup orang banyak.
Namun, dari semua deretan kearifan lokal tersebut, ada satu pesan pamungkas Mbah Haji
Rojikin yang mengandung makna mitigasi mendalam: "Bedali bedahing kali". Kalimat ini
merujuk pada sebuah peringatan bahwa suatu saat nanti, tatanan Sungai Bedegolan bisa saja
mengalami "bedah" atau luapan air yang masif.







