BERITAKEBUMEN.COM – Menjelang datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, mengingatkan umat Islam agar berhati-hati terhadap berbagai amalan yang beredar tanpa dasar yang jelas.
Ia mengajak masyarakat untuk berpegang pada hadis sahih dan menghidupkan syiar kalender Hijriah melalui kegiatan yang sesuai tuntunan syariat.
Dalam ceramahnya, Buya Yahya menanggapi berbagai klaim amalan khusus yang sering dikaitkan dengan awal Muharram, seperti membaca Ayat Kursi sebanyak 360 kali atau menulis basmalah dalam jumlah tertentu.
BACA JUGA: Mengapa Islam Melarang Mencabut Uban? Buya Yahya Ungkap Makna Spiritual di Balik Rambut Putih
Menurutnya, amalan-amalan tersebut tidak bermasalah selama dilakukan sebagai bentuk ibadah pribadi. Namun, yang keliru adalah ketika amalan itu diklaim sebagai perintah Rasulullah SAW tanpa dasar yang sahih.
Ia juga menepis riwayat tentang puasa akhir tahun dan awal tahun yang disebut dapat menghapus dosa.
Menurut Buya Yahya, riwayat tersebut tidak benar karena konsep pergantian tahun Hijriah baru ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, bukan pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Sebagai gantinya, Buya Yahya mendorong umat Islam memperbanyak puasa sunah di bulan Muharram.
Ia menegaskan bahwa puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa Muharram.
Keutamaan terbesar terdapat pada puasa Asyura, yakni 10 Muharram, yang disebut dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.
Untuk mengikuti sunah Rasulullah SAW, umat Islam dianjurkan berpuasa pada 9 dan 10 Muharram. Pilihan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9, 10, dan 11 Muharram.
BACA JUGA: Menyambut Hari Istimewa, Ini Alasan Mengapa Puasa Tarwiyah 8 Dzulhijjah Sangat Dianjurkan
Selain membahas ibadah puasa Muharram, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk lebih mengenal kalender Hijriah yang menjadi dasar berbagai hukum syariat.
Ia mendorong masjid, ustaz, dan masyarakat mengisi malam Tahun Baru Islam dengan zikir, doa, dan kajian keagamaan.
Menurutnya, langkah tersebut dapat memperkuat syiar Islam sekaligus menumbuhkan kecintaan umat terhadap tradisi keilmuan dan ibadah yang diwariskan para ulama.






