Selamat Tinggal Gas Melon? Adu Nyali Untung-Rugi CNG 3Kg yang Diklaim 40 Persen Lebih Murah

Gas Melon
Foto Ilustrasi: @ImageGen/by: Gita Kurniawan

Bagi pemerintah dan para pengamat ekonomi energi, konversi ke CNG adalah jalan keluar ( way out) yang brilian. Daya tarik utamanya sangat jelas: Harga yang jauh lebih murah dan kemandirian energi nasional.

Pemerintah mengklaim bahwa harga jual CNG di pasaran nantinya akan 30 hingga 40 persen lebih miring dibandingkan LPG saat ini, dengan tingkat konsumsi yang lebih irit. Hal ini dimungkinkan karena bahan baku gas alam (CNG) murni bersumber dari kekayaan alam dalam negeri, sehingga memangkas rantai pasok dan biaya impor secara drastis.

Berita Lainnya

BACA JUGA: Google Tahu Segalanya tentang Kamu! Ini Cara Cek dan Hentikan Pelacakan Data Pribadi

Lebih melegakan lagi, secara teknis masyarakat sama sekali tidak perlu membuang kompor gas lama mereka. Infrastruktur dapur yang ada saat ini dipastikan kompatibel.

“Langkah ini adalah peta jalan (roadmap) strategis yang mutlak dilakukan. Fokus kita adalah mengurangi beban subsidi LPG yang sangat membebani negara, sembari memberikan harga energi yang lebih terjangkau dan aman bagi rumah tangga tangga,” ungkap perwakilan dari Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, menyoroti urgensi transisi ini bagi ketahanan ekonomi makro.

Gas Melon
Foto Ilustrasi: @ImageGen/by: Gita Kurniawan
Kubu Kontra: Awas Bom Waktu, Hoaks Liar, dan Pelajaran Berharga dari ‘Cultural Jump’

Tekanan tabung yang super tinggi memicu kecemasan. Publik mendesak pemerintah agar tidak mengulangi kekacauan masa lalu.

Di kubu seberang, keraguan dan kritik mengalir deras. Sorotan paling tajam diarahkan pada faktor keamanan teknis. Mengingat CNG adalah gas alam yang ditekan (compressed), material ini membutuhkan tabung khusus bertipe 4 yang sanggup menahan tekanan ekstrem di angka 200 hingga 250 bar, jauh melampaui tekanan tabung LPG biasa. Publik dan pengamat menuntut garansi mutlak; jika kualitas tabung ini cacat produksi sedikit saja, dapur warga bisa berubah menjadi titik bahaya.

BACA JUGA: Bencana Berwujud Gunung: Bantargebang Jadi Monster Metana Kedua Dunia

Selain urusan teknis, trauma sejarah juga menjadi penghalang psikologis. Mengaca pada masa lalu, kajian sosiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pernah mencatat fenomena cultural jump (lompatan budaya) saat masyarakat “dipaksa” beralih dari minyak tanah ke LPG. Pada masa itu, ketidaksiapan mental dan minimnya edukasi memicu kepanikan, antrean panjang di mana-mana, hingga maraknya kecelakaan ledakan akibat ketidaktahuan. Catatan sejarah inilah yang digunakan oleh para kritikus untuk memperingatkan pemerintah agar skenario tersebut tidak terulang pada transisi CNG ini.

Berita terkait