KEBUMEN, Beritakebumen.com – Di balik rimbunnya hutan pegunungan Karst Gombong Selatan, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, terdapat sebuah pemukiman yang seolah terputus dari hiruk-pikuk dunia luar.
Dusun Klesem, atau yang lebih dikenal sebagai Kampung Klesem, memegang predikat sebagai kampung tersepi dan paling terpencil di wilayah tersebut.
Diunggah kanal Youtube Tedhong Telu, Dusun Klesem hanya dihuni oleh enam kepala keluarga. Kampung ini menyuguhkan harmoni kehidupan lansia yang hidup berdampingan dengan alam ekstrem.
Perjalanan menuju Dusun Klesem bukanlah perkara mudah. Kamu harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer dari Desa Pakuran, Kecamatan Buayan melalui jalan setapak yang menanjak dan dikelilingi tebing tinggi.
BACA JUGA: Ingin Rezeki Lancar? Hindari 15 Kebiasaan di Teras Rumah yang Sering Dianggap Sepele Ini!
Uniknya, tanah di sini dipenuhi oleh bebatuan karang yang menyerupai dasar laut, memperkuat teori bahwa wilayah pegunungan ini dulunya merupakan lautan lepas yang terangkat ke permukaan bumi.
Kehidupan di Antara Tebing dan Sunyi
Keunikan utama Dusun Klesem terletak pada tata letak rumahnya yang saling berjauhan. Antara satu rumah dengan rumah lainnya dipisahkan oleh jarak sekitar 100 hingga 300 meter, tertutup oleh pepohonan jati dan rimbunnya hutan.
Kondisi ini membuat suasana kampung terasa sangat sunyi; teriakan dari satu rumah bahkan hampir mustahil terdengar di rumah tetangga.
Mayoritas penghuni dusun ini adalah lansia yang sudah menetap selama puluhan tahun. Meski usia mereka sudah melewati angka 70 hingga 80 tahun, semangat hidup mereka luar biasa.
Sehari-hari, warga Dusun Klesem menggantungkan hidup pada hasil bumi, seperti membuat gula merah (deres), menanam kapulaga, dan beternak kambing.
Ketangguhan Lansia di Tengah Keterbatasan
Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah Mbah Darwi, seorang lansia berusia di atas 80 tahun yang masih kuat menggendong tumpukan rumput hasil “ngarit” di medan pegunungan yang terjal.
Baginya, berjalan kaki di lereng curam sudah menjadi makanan sehari-hari sejak zaman penjajahan Jepang.
“Sudah biasa jalan seperti ini, memang sudah dari dulu,” ungkapnya dengan bahasa Jawa yang kental.
Keramahan juga menjadi ciri khas warga di sini. Meski hidup dalam kesederhanaan, mereka tak ragu menyambut tamu dengan suguhan hangat berupa kopi, getuk singkong, dan pecel kecipir hasil kebun sendiri.
Tantangan Akses dan Fasilitas
Kehidupan di Dusun Klesem penuh dengan tantangan geografis. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga harus memasang instalasi selang plastik panjang yang menyalurkan air langsung dari sumber mata air di puncak gunung.
Selain itu, akses yang jauh membuat kebutuhan dasar seperti belanja harian menjadi perjuangan tersendiri bagi para lansia ini.
Banyak generasi muda dari dusun ini yang memilih merantau ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik, menyisakan orang tua mereka yang tetap setia menjaga tanah kelahiran.
Dusun Klesem pun kini menjadi simbol ketenangan sekaligus ketangguhan manusia dalam menghadapi kerasnya alam pegunungan Kebumen.
BACA JUGA: Ngeri! Aiman Witjaksono Bongkar Cara AI Memalsukan Wajah dan Suara, Semua Bisa Jadi Korban
Pesona Sunyi yang Berharga
Dusun Klesem bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bukti nyata bagaimana manusia mampu beradaptasi di lokasi paling terpencil sekalipun.
Keasrian alam pegunungan Karst dan keramahan warga lansia di sana memberikan pelajaran berharga tentang rasa syukur dan ketenangan yang sulit ditemukan di kota besar.
Bagi siapa saja yang berkunjung, Dusun Klesem menawarkan perjalanan spiritual tentang kesederhanaan yang abadi.






