Peristiwa 27 Januari ini mengajarkan kita dua hal penting: penghormatan terhadap alam dan pentingnya standar keselamatan. Peneliti LIPI, Adi Purwandana, menjelaskan bahwa fenomena di Masalembo murni berkaitan dengan oseanografi dan meteorologi, seperti monsoonal stream (arus musiman) dan turbulensi udara, bukan karena fenomena mistis yang selama ini diyakini.
Sebagai generasi penerus, tugas kita adalah belajar dari sejarah. Bagi kalian yang sering bepergian melintasi laut atau udara, pahami bahwa alam Indonesia memang menantang. Mari kita kirimkan doa terbaik untuk Kapten Abdul Rivai dan seluruh korban Tampomas II. Semoga ‘Segitiga Masalembo’ tak lagi meminta tumbal di masa depan.






