Manfaatkan Lahan Pesisir, Petani Tanggulangin Kebumen Berhasil Budidaya Ketela Madu

Lebih kebal hama dan cepat panen, ketela madu jadi primadona baru petani pesisir selatan Kebumen. (Foto: Ilustrasi AI)

KLIRONG, Beritakebumen.com – Wilayah pesisir selatan Kebumen selama ini dikenal memiliki karakteristik tanah berpasir yang unik.

Meski berbeda dengan lahan pertanian pada umumnya, struktur tanah di wilayah seperti Ambal, Buluspesantren, Klirong, hingga Mirit ini justru menyimpan potensi besar untuk pengembangan sektor agribisnis, khususnya tanaman palawija dan buah-buahan.

Berita Lainnya

Di Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, seorang petani bernama Daldiri berhasil membuktikan bahwa lahan berpasir bukanlah hambatan untuk produktif.

Ia sukses membudidayakan ketela rambat jenis madu di atas lahan seluas 250 ubin miliknya. Hal ini menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar dalam mengoptimalkan potensi geografis wilayah pesisir.

BACA JUGA: Lawan Mitos! Petani di Kebumen Sukses Tanam Cabai Lokal Medan yang Subur di Lahan Pesisir

Keunggulan Budidaya Ketela Madu

Daldiri mengungkapkan bahwa ia sengaja memilih ketela rambat sebagai komoditas utama karena proses perawatannya yang jauh lebih praktis dibandingkan tanaman lain.

Ketela rambat memiliki daya tahan yang baik dan tidak rentan terhadap serangan hama, berbeda dengan tanaman hortikultura seperti cabai atau tomat yang memerlukan perhatian ekstra.

Selain faktor kemudahan perawatan, waktu panen yang relatif singkat menjadi alasan kuat Daldiri menekuni usaha ini.

“Hanya butuh waktu sekitar 70 hari sampai maksimal 3 bulan, ketela madu sudah siap dipanen,” ujar Daldiri, 28 Januari 2026.

Potensi Ekonomi dan Pemasaran

Dari sisi ekonomi, budidaya ketela madu di pesisir Kebumen ini menjanjikan keuntungan yang stabil. Untuk urusan pemasaran, Daldiri tidak menemui kesulitan berarti.

Hasil panennya biasanya langsung diserap oleh tengkulak maupun warga sekitar yang datang langsung ke lokasi.

Harga jual di tingkat tengkulak saat ini berada di kisaran Rp4.000 per kilogram. Sementara itu, jika dijual secara eceran kepada masyarakat umum, harganya bisa mencapai Rp6.000 per kilogram.

Perbedaan harga ini memberikan fleksibilitas bagi petani dalam menentukan target pasar mereka.

BACA JUGA: Sulap Lahan Hutan Jadi Cuan, Petani Tirtomoyo Sukses Raup Rupiah dari Budidaya Lada

Keberhasilan Daldiri menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan berpasir di selatan Kebumen memiliki prospek cerah untuk meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Dengan masa tanam yang singkat dan risiko kegagalan yang minim akibat hama, ketela rambat menjadi solusi pertanian yang efektif di lahan marjinal.

Optimasi lahan pesisir ini diharapkan terus berkembang sehingga wilayah selatan Kebumen tidak hanya dikenal dengan keindahan pantainya. Tetapi juga sebagai lumbung pangan yang produktif melalui inovasi para petaninya.

Berita terkait