KEBUMEN, Beritakebumen.com – Gigitan ular kerap memicu kepanikan. Namun, tindakan keliru justru mempercepat bahaya.
Tim medis RSUD dr. Soedirman (RSDS) Kebumen melalui kanal YouTube resmi mereka membagikan panduan penanganan awal yang aman dan tepat guna.
Langkah paling penting saat terkena gigitan ular adalah imobilisasi, atau melumpuhkan bagian tubuh yang tergigit agar tidak bergerak.
BACA JUGA: Saran dr Hasan Bayuni: Hindari Porsi Nasi Berlebih Saat Sahur, Ini Alasannya
Dokter Agung Nugroho menjelaskan bahwa racun ular menyebar melalui kelenjar getah bening, yang pergerakannya dipicu oleh kontraksi otot.
Semakin banyak gerakan, racun akan semakin cepat menuju organ vital. Karena itu, pasang bidai dari kayu atau bambu untuk menahan anggota tubuh tetap diam, serupa dengan penanganan patah tulang.
Masyarakat juga diminta menghentikan kebiasaan berbahaya. Menghisap luka tidak efektif mengeluarkan racun dan berisiko infeksi.
Mengikat kencang atau torniket justru mematikan aliran darah, menyebabkan kerusakan jaringan.
Begitu pula dengan membawa korban ke dukun atau pawang. Keterlambatan akses medis kerap menjadi penyebab utama fatalitas.
Jika terjadi gigitan ular, tetaplah tenang. Kepanikan mempercepat detak jantung dan distribusi bisa. Cuci luka dengan air mengalir dan sabun.
BACA JUGA: Tak Perlu Diet Ketat, Begini Cara Alami Kecilkan Perut Buncit dengan Konsep ‘Singa Lapar’
Lakukan imobilisasi, tandai waktu kejadian, dan amati munculnya pembengkakan. Segera bawa korban ke rumah sakit yang menyediakan Serum Anti Bisa Ular (SABU) untuk observasi selama 24 hingga 48 jam.
Keselamatan korban sangat ditentukan oleh ketenangan dan imobilisasi yang benar. Dengan pemahaman yang tepat, risiko fatal akibat gigitan ular dapat ditekan.
Waspadalah saat beraktivitas di area rimbun, terutama di musim hujan, dan segera hubungi layanan darurat jika insiden terjadi.






