KEBUMEN, Beritakebumen.com – Sahur merupakan bekal utama agar tubuh tetap bertenaga saat menjalankan ibadah puasa.
Namun, kebiasaan umum yang sering terjadi justru kurang tepat, yaitu mengonsumsi nasi dalam porsi besar dengan keyakinan dapat menahan lapar lebih lama.
Padahal, pemilihan menu sahur yang salah justru bisa membuat cepat lemas dan lapar sebelum waktu berbuka tiba.
Direktur RS PKU Muhammadiyah Sruweng, dr. Hasan Bayuni, menjelaskan bahwa nasi termasuk dalam kategori karbohidrat sederhana (simpleks).
BACA JUGA: Kalori Tiga Butir Kurma Setara Sepiring Nasi, dr Tirta Ungkap Alasan Jadi Takjil Terbaik
Ketika dikonsumsi, karbohidrat sederhana akan cepat dicerna tubuh menjadi gula darah dan energi. Sayangnya, energi ini juga cepat habis sehingga memicu rasa lapar kembali dalam waktu singkat.
“Saat sahur, tubuh kita secara alami sudah mulai melakukan proses glukoneogenesis, yaitu proses memproduksi gula sendiri. Jika kita menambah asupan nasi yang banyak, kadar gula darah akan melonjak terlalu tinggi,” ujar dr. Hasan.
Lalu, menu seperti apa yang ideal dikonsumsi saat sahur? Dokter Hasan merekomendasikan dua komponen utama, yaitu protein dan serat.
Sumber protein sangat dianjurkan, terutama protein hewani seperti ayam, ikan, atau telur. Alternatif lainnya bisa diperoleh dari protein nabati seperti tempe dan tahu.
Protein berperan penting memberikan rasa kenyang lebih lama dan menjaga stamina.
Komponen kedua adalah makanan berserat tinggi. Serat bisa didapatkan dari sayuran, kurma, dan aneka buah-buahan.
Serat membantu memperlambat proses pencernaan sehingga pelepasan energi ke tubuh berlangsung bertahap dan tahan lama.
Lantas, apakah nasi tidak boleh dikonsumsi sama sekali? Dokter Hasan menegaskan bahwa nasi tetap boleh dimakan, namun cukup dalam porsi kecil. Ia mengingatkan bahwa sumber karbohidrat tidak hanya berasal dari nasi.
BACA JUGA: Puasa Ramadan Jadi Momen ‘Cuti’ Terbaik untuk Ginjal, Begini Penjelasan Medisnya
“Sayuran, jagung, ubi, dan buah-buahan juga mengandung karbohidrat. Bedanya, ini adalah karbohidrat kompleks. Karbohidrat kompleks tidak cepat menaikkan gula darah dan energinya dilepaskan secara perlahan sehingga tubuh lebih bertenaga dalam waktu yang lebih panjang,” imbuhnya.
Dengan memahami jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh, masyarakat dapat menyusun menu sahur yang lebih berkualitas. Kuncinya bukan pada kuantitas makanan, melainkan pada keseimbangan antara protein dan serat yang dikonsumsi.
Sahur yang baik akan membantu tubuh tetap bugar, konsentrasi terjaga, dan ibadah puasa berjalan lancar hingga waktu magrib tiba. Sudahkah menu sahur kamu berkualitas hari ini?






