BERITAKEBUMEN.COM – Banyak perokok aktif mengandalkan rokok untuk mengusir stres dan meningkatkan fokus.
Sensasi rileks setelah mengisap rokok sering kali dianggap sebagai efek kandungan di dalamnya.
Namun, penjelasan medis dari dr. Gia Pratama mematahkan anggapan tersebut dan mengungkap bahwa efek menenangkan dari rokok sebenarnya hanyalah ilusi pikiran.
Dalam sebuah diskusi edukatif bersama dr. Tirta Mandira Hudhi, kisah seorang videografer bernama Daniel Nimrot (42) menjadi contoh nyata.
Daniel adalah perokok berat sejak SMP, gemar begadang, berporsi makan besar, dan selalu takut memeriksakan kesehatan.
Sebagai editor video, ia kerap mengonsumsi rokok untuk meredakan pusing dan stres akibat tekanan kerja.
Dokter Gia Pratama menjelaskan bahwa rasa rileks tersebut timbul dari perubahan pola napas, bukan dari kandungan rokok.
BACA JUGA: Rahasia 1.400 Tahun Terungkap, Puasa Daud Ternyata Mampu ‘Reset’ Otak dan Cegah Pikun
Saat seseorang stres, napas otomatis menjadi pendek dan cepat. Cara alami mengembalikan ketenangan tubuh adalah dengan menarik napas dalam dan panjang.
Aktivitas mengisap rokok secara tidak sadar memaksa perokok melakukan olah napas dalam tersebut. Pola napas ini bisa dipraktikkan kapan saja tanpa harus membakar rokok.
Selain itu, dr. Gia mengingatkan bahwa kombinasi rokok dan obesitas sangat menurunkan angka harapan hidup.
Secara medis, pasien yang bertahan hidup di atas usia 80 tahun rata-rata bertubuh kurus dengan persentase lemak yang terjaga.
Edukasi taktis ini berhasil menyadarkan Daniel, yang akhirnya berkomitmen memperbaiki gaya hidup, menurunkan berat badan, serta berhenti merokok demi investasi masa depan.






