“Lailatul Qadar itu pengganti umur umat Nabi Muhammad yang tidak sepanjang umat-umat terdahulu. Ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan, sebuah bonus dan hadiah sejak awal,” ujar Gus Baha.
Strategi “Start” Sejak Awal Ramadan
Terkait kapan datangnya malam mulia tersebut, Gus Baha memberikan perspektif yang menarik. Meskipun banyak yang fokus mencari pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau menyarankan umat Islam untuk mulai bersiap sejak hari pertama.
Ia mengibaratkan pencarian Lailatul Qadar seperti sebuah balapan. Jika seseorang baru bersungguh-sungguh beribadah pada tanggal 21 Ramadan, ia dianggap sebagai “pemula” oleh malaikat karena orang lain sudah memulai sejak tanggal satu.
“Jika baru mencari dengan serius di tanggal 21, sementara dari tanggal satu sampai 20 kerjanya hanya tidur, maka secara hitungan balapan sudah kalah jauh. Idealnya, kesungguhan itu dimulai sejak awal Ramadan,” tambahnya.
Optimisme Mendapatkan Lailatul Qadar
Gus Baha mengajak umat Islam untuk memiliki keyakinan kuat bahwa mereka akan mendapatkan Lailatul Qadar selama mereka menjalankan ibadah Ramadan dengan benar dan menjauhi maksiat.
BACA JUGA: Tips Bahagia ala Gus Baha, Rahasia Hidup Tenang dengan Menunggu Waktu Salat
Ia menekankan bahwa Lailatul Qadar adalah rahmat Allah yang luas, bukan sesuatu yang harus dicari dengan rasa tertekan atau berlebihan.
Bahkan, Gus Baha mengingatkan bahwa hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari bisa bernilai ibadah bagi umat Nabi Muhammad.
Ia mengutip hadis yang menyatakan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, bahkan hubungan suami istri pun dicatat sebagai sedekah.
“Tidak perlu terlalu mendramatisir istilah ‘menangkap’ Lailatul Qadar. Yang paling penting adalah menjaga kesalehan, meskipun kelas ringan, asalkan tidak bermaksiat. Dengan begitu, peluang mendapatkan bonus umur ini sangat terbuka bagi setiap umat Nabi,” pungkasnya.






