Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia menderita hepatitis autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel hati. Untuk mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif, dokter kemudian merujuknya ke RS Dr. Sardjito Yogyakarta. Di rumah sakit tersebut, Gibran menjalani operasi hati sebagai bagian dari proses pengobatan dan pemulihan.
BACA JUGA: Masuk Radar Aglomerasi Borobudur, Wisata Kebumen Bersiap Kebanjiran Turis
Perjalanan pengobatan yang panjang menjadi tantangan tersendiri bagi pelajar berusia 14 tahun itu. Selain harus menjalani kontrol kesehatan secara rutin, ia juga sempat meninggalkan aktivitas belajar bersama teman-temannya di sekolah.
“Saya takut tertinggal pelajaran karena harus sering kontrol dan menjalani perawatan. Tapi guru dan teman-teman memberikan dukungan sehingga saya tetap semangat untuk sembuh,” tuturnya.
Dukungan dari Lingkungan Sekolah
Selama menjalani pengobatan, Gibran mengaku mendapatkan banyak dukungan dari lingkungan sekolah. Meski tinggal di asrama dan jauh dari orang tua, perhatian para guru dan teman menjadi sumber semangat untuk terus menjalani proses pemulihan.
BACA JUGA: Petani Ditemukan Meninggal di Sawah Kebumen, Keluarga Tolak Autopsi
Ia juga bersyukur karena seluruh layanan kesehatan yang dibutuhkan dapat diakses melalui Program JKN tanpa harus terbebani biaya pengobatan yang besar.






