BERITAKEBUMEN.COM – Beredar anggapan di masyarakat bahwa listrik prabayar atau token lebih boros dibandingkan sistem pascabayar.
PT PLN (Persero) angkat bicara untuk meluruskan kesalahpahaman yang berkembang di kalangan pelanggan.
Manager Komunikasi, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN UID Jawa Timur, Dana Puspitasari, menegaskan bahwa metode pembayaran tidak mempengaruhi tingkat konsumsi listrik.
Pandangan bahwa token lebih cepat habis karena sistemnya boros adalah keliru.
PLN menjelaskan kedua sistem memiliki kesamaan teknis dalam pengukuran. Pelanggan prabayar dan pascabayar sama-sama menggunakan satuan kilowatt hour (kWh).
Nilai tarif listrik ditentukan berdasarkan golongan tarif dan kapasitas daya pelanggan, bukan dari cara pembayaran. Perbedaan mendasar hanya terletak pada waktu pembayaran.
Pelanggan prabayar membeli kWh terlebih dahulu, sedangkan pelanggan pascabayar menggunakan listrik lalu membayar tagihan di akhir bulan.
Pola Konsumsi Elektronik Jadi Pemicu Utama
Dana mengungkapkan faktor utama token cepat habis adalah pola penggunaan peralatan elektronik di rumah.
Konsumsi energi melonjak drastis saat rumah tangga sering mengoperasikan perangkat berdaya besar.
Beberapa peralatan yang paling menyedot daya antara lain pendingin ruangan (AC), pompa air, rice cooker, dispenser, kulkas, mesin cuci, dan setrika pakaian.
Sistem Prabayar Justru Mempermudah Kontrol
PLN menilai sistem prabayar memberikan keuntungan dalam hal transparansi. Melalui indikator angka pada meteran digital, pelanggan dapat memantau sisa daya kWh secara langsung setiap hari.
Berbeda dengan sistem pascabayar yang baru diketahui total konsumsinya saat tagihan bulanan terbit.
Besaran biaya listrik sepenuhnya dikendalikan oleh total volume kWh yang dihabiskan, golongan tarif rumah tangga, serta kebijakan pelanggan dalam mengoperasikan alat elektronik.
Dengan memahami hal ini, masyarakat diharapkan lebih bijak mengelola konsumsi listrik sehari-hari.






