Waktu terbaik untuk ngopi adalah setelah salat Isya, agar efek stimulasinya tidak mengganggu aktivitas puasa keesokan harinya.
Soal porsi makan sahur, ia mengingatkan untuk tidak berlebihan. Lambung memiliki kapasitas terbatas. Mengisinya terlalu penuh justru memicu rasa mual, muntah, hingga risiko penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Tubuh manusia normal mampu bertahan tanpa makan dalam waktu cukup lama, sehingga makan secukupnya saja sudah memadai.
Dalam memilih minuman saat berbuka, dr. Tirta lebih menyarankan air hangat ketimbang air dingin.
BACA JUGA: Buka Puasa Sehat ala dr Zaidul Akbar: Hindari Gorengan, Ini Menu Penggantinya
Air hangat memberikan efek relaksasi pada pembuluh darah di kerongkongan atau vasodilatasi, serta membantu membunuh mikroorganisme di mulut. Tubuh yang sedang kosong akan merasakan kenyamanan lebih baik dengan minuman hangat.
Ia juga menyarankan konsumsi makanan tinggi magnesium seperti kurma, alpukat, dan daging merah. Mineral ini efektif mencegah kram otot selama berpuasa dan membantu meningkatkan kualitas tidur di malam hari.
Menutup penjelasannya, dr. Tirta mengingatkan agar fokus utama selama Ramadan tetap pada peningkatan ibadah.
Olahraga dan pekerjaan tetap perlu dijalankan, namun jangan sampai mengorbankan kondisi fisik sehingga ibadah puasa terganggu. Dengan pola tidur teratur dan asupan nutrisi yang pas, tubuh akan tetap bugar sepanjang bulan penuh berkah ini.






