Beritakebumen.com – Penulis novel Hati Suhita, Ning Khilma Anis, menyampaikan pandangan mendalam tentang peran perempuan di pesantren.
Ia menegaskan bahwa sosok nyai merupakan penyangga utama kehidupan pondok pesantren.
Dalam sebuah acara bersama para ibu dan santri yang diunggah di kanal NU Online, Ning Khilma mengungkapkan keprihatinannya terhadap fitnah yang kerap dialami dunia pesantren di media sosial.
Menurutnya, publik sering hanya melihat permukaan tanpa memahami dedikasi luar biasa para kiai dan nyai yang menghabiskan hidup demi kebahagiaan santri.
Ning Khilma mengajak generasi muda lebih vokal menceritakan kisah ketulusan guru-guru mereka di media sosial. Langkah ini penting untuk melawan narasi miring yang beredar.
Filosofi Soko Guru untuk Perempuan
Ning Khilma meluruskan pandangan lama yang meremehkan posisi perempuan sebagai konco wingking.
BACA JUGA: Gus Baha Ungkap Alasan Mbah Moen Anjurkan Nasabah Muslim Pakai Bank Pemerintah
Ia justru menyebut perempuan sebagai soko guru, tiang utama penyangga bangunan pesantren dan keluarga. Jika tiang ini roboh, seluruh struktur akan ikut hancur.
Ia merujuk pada tiga pilar dari Ki Hajar Dewantara. Tutur berarti kemampuan berkata baik dan memberi nasihat menyejukkan.
Uwur adalah peran mencukupi kebutuhan materi dan moral. Sembur berarti kekuatan doa para nyai yang menyertai setiap langkah santri.
Prinsip Gus Jigang untuk Kemandirian
Ning Khilma membagikan resep psikologis bagi perempuan tangguh, ngandel (percaya pada Tuhan), kendel (berani mengambil peluang), bandel (mental kuat), dan kandel (punya bekal pengetahuan).
Ia mencontohkan filosofi Gus Jigang (Bagus, Ngaji, Dagang) khas Kudus sebagai bentuk kemandirian perempuan.
“Kamu tidak perlu minta izin untuk terbang, sebab itu adalah sayapmu,” pesannya penuh semangat.
Perempuan, menurut Ning Khilma, adalah sutradara di balik layar yang menentukan kualitas kehidupan keluarga dan pesantren.






