Namun, Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa esensi puasa Syawal bukan sekadar hitungan matematis. Yang terpenting adalah menjaga spirit Ramadan agar terus berlanjut di sebelas bulan berikutnya.
Kondisi spiritualitas pun tetap terjaga seakan-akan dalam suasana puasa sepanjang tahun.
Soal pelaksanaan, UAH memberikan kelonggaran. Puasa Syawal tidak harus dilakukan enam hari berturut-turut. Umat Islam bisa menjalankannya secara langsung mulai tanggal 2 Syawal.
BACA JUGA: Malam Terakhir Ramadan, Gus Baha Ungkap Rahasia Syafaat Nabi untuk Umat Berdosa
Atau boleh pula dilakukan terpisah selama masih dalam bulan Syawal. Fleksibilitas ini diberikan agar ibadah sunah tidak menjadi beban, terutama saat momen silaturahmi dan halal bihalal.
Ustadz Adi Hidayat mengajak umat Islam menjadikan Syawal sebagai titik tolak peningkatan diri. Kebiasaan baik seperti membaca Al-Qur’an yang terbangun di Ramadan hendaknya dipertahankan.
Keberhasilan menjalankan puasa Syawal menjadi tanda bahwa seorang hamba mampu menaklukkan nafsu dan membawa nilai-nilai takwa hingga Ramadan berikutnya.





